Rabu, 28 Oktober 2015

Bioteknologi Berkaitan dengan Pembiakan Seksual dan Aseksual ( Jagung )

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Terdapat jutaan organisme di bumi dengan bentuk dan struktur yang beranekaragam. Organisme yang dikira tidak memilikimanfaat ternyata memiliki potensi yang cukup besar bagi manusia. Oleh sebab itu manusia dengan kecerdasan berpikirnyamencoba untuk mengembangkan dan menggunakannya seluruh organisme di bumi demi kesejahteraan kehidupan umatmanusia. Pemanfaatan prinsip-prinsip ilmiah yang menggunakan makhluk hidup atau organisme untuk menghasilkan produk dan jasa guna kepentingan manusia disebut bioteknologiHampir semua orang pasti pernah melakukan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari, walaupun mereka kurangmengerti apa itu bioteknologi dan istilah bioteknologi terdengar asing bagi mereka. Namun, apabila mereka diberitahu bahwa pembuatan tempe, tape dan kecap merupakan beberapa contoh bioteknologi, barulah mereka mulai sedikit mengertiapa yang dimaksud dengan bioteknologi. Pada mulanya bioteknologi memang didominasi untuk memproduksi makanan.eiring perkembangan !aman, para ahli terus meneliti beberapa organisme agar dapat memperoleh suatu produk yang bermanfaat. "an akhirnya pun mereka berhasil menemukan produk-produk bioteknologi baru dari pemanfaatan organisme.

1.2 TUJUAN

1.2.1 Untuk mengetahui Bioteknologi yang berkaitan dengan pengembangbiakkan seksual dan aseksual (jagung) ?
1.2.2 Apakah Perbedaan perkembangbiakan secara seksual dan aseksual?

BAB II
TEORI

2.1 Bioteknologi berkaitan dengan Pembiakan Seksual dan Aseksual
Tanaman transgenik merupakan tanaman yang telah disisipi atau memiliki gen asing dari spesies tanaman yang berbeda atau makhluh hidup lainnya. Salah satu contoh yang diambil adalah tanaman jagung. 

   Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting selain gandum dan padi.jagung dibudidayakan di Indonesia dengan cara transgenik. Upaya peningkatan produksi jagung dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain melalui perbaikan genetik tanaman. Perbaikan genetik jagung bertujuan untuk mengatasi kendala pertumbuhan tanaman, terutama cekaman lingkungan biotik dan abiotik. Perbaikan genetik pada jagung dilakukan secara konvensional maupun melalui rekayasa genetik. Dengan perkembangan bioteknologi, perbaikan genetik jagung melalui rekayasa genetik akan menjdai andalan dalam pemecahan masalah perjagungan di masa mendatang. Dalam rekayasa genetik, sifat unggul tidak hanya didapatkan dari tanaman jagung itu sendiri, tetapi juga dari spesies lain sehingga dapat dihasilkan tanaman transgenik. Jagung Bt merupakan salah satu tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, dimana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thuringienisis. 

    Penggunaan teknologi rekayasa genetik pada tanaman jagung berkembang pesat setelah pertama kali Gordonn-Kamm et al (1990) berhasil mendapatkan tanaman jagung transgenik yang fertil. Hal ini terobosan dalam pengembangan dan pemanfaatan plasma nutfah dalam penelitian di bidang biologi tanaman jagung. Teknologi rekayasa genetik merpakan teknologi transfer gen dari satu spesies ke spesies lain, dimana gen interes berupa suatu fragmen DNA ditransformasikan ke dalam sel atau tanaman inang untuk menghasilkan tanaman transgenik yang mempunyai sifat baru. Terdapat dua metode dalam pemanfaatan teknologi transfer gen, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Metode transfer gen secara langsung diantaranya adalah: elektroforasi, penembakan partikel, serta kabid silikon. 

   Namun, ada pula permasalahan dibalik transgenik ini. Sebagaian besar rekayasa atau modifikasi sifat tanaman dilakukan untuk mengatasi kebutuhan pangan penduduk dunia semakin meningkat dan juga permsalahan kekurangan gizi manusia sehingga pembuatan tanaman transgenik juga menjdai bagian dari pemuliaan tanaman. Hadirnya tanaman transgenik menimbulkan kontroversi masyarakat dunia karena sebagian masyarakat khawatir apabila tanaman tersebut akan menganggu keseimbangan lingkungan, membahayakan kesehatan manusia, dan mempengaruhi perekonomian global.

2.2 Perbedaan perkembangbiakan secara seksual dan aseksual

Reproduksi seksual membutuhkan keterlibatan dua individu, biasanya dari jenis kelamin yang berbeda. Reproduksi manusia normal adalah contoh umum reproduksi seksual. Secara umum, organisme yang lebih kompleks melakukan reproduksi secara seksual, sedangkan organisme yang lebih sederhana, biasanya satu sel, melakukan reproduksi secara aseksual.

BAB III
PENUTUP

3.1 ANALISIS

Perbaikan genetik jagung bertujuan untuk mengatasi kendala pertumbuhan tanaman, terutama cekaman lingkungan biotik dan abiotik. Perbaikan genetik pada jagung dilakukan secara konvensional maupun melalui rekayasa genetik. Dengan perkembangan bioteknologi, perbaikan genetik jagung melalui rekayasa genetik akan menjdai andalan dalam pemecahan masalah perjagungan di masa mendatang. Dalam rekayasa genetik, sifat unggul tidak hanya didapatkan dari tanaman jagung itu sendiri, tetapi juga dari spesies lain sehingga dapat dihasilkan tanaman transgenik. Jagung Bt merupakan salah satu tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, dimana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thuringienisis. 

REFERENSI

Rabu, 21 Oktober 2015

Efek Rumah Kaca

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Dari tahun ketahun kita dapat merasakan  perubahan cuaca yang semakin tidak menentu bahkan bisa sampai ekstrim. Dalam satu hari pada saat siang hari cuacanya sangat panas, sedangkan pada sore sampai malam hari hujan melanda. Kejadian ini sering disebut dengan nama lain adalah pemanasan global atau global warming, dimana terjadi peningkatan suhu di permukaan bumi akibat efek rumah kaca.
Sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya. Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas ke angkasa menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi, sehingga lebih dari dari kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan.
Fokus dari makalah ini adalah membahas tentang efek rumah kaca itu sendiri, hal-hal yang menyebabkan efek rumah kaca, akibat yang ditimbulkannya, faktor apa saja yang menyebabkannya terjadinya efek rumah kaca serta alasan kenapa udara menjadi panas saat cuaca sedang mendung.

1.2 TUJUAN

Tujuan dari pembuatan makalah  ini adalah agar dapat memberitahukan apa itu efek rumah kaca dan bagaimana cara mengurangi efek rumah kaca tersebut. Agar para pembaca dapat mengeahui atau turut serta dalam usaha mengurangi efek rumah kaca tersebut.

1.3 RUMUSAN MASALAH

Masala-masalah ang akan kita bahas meliputi :

1.3.1           Apa pengertian dari efek rumak kaca ?
1.3.2       Apa penyebab terjadinya efek rumah kaca ?
1.3.3       Apa akibat dari efek rumah kaca ?
1.3.4       Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya pelepasan gas pada efek rumah kaca ?
 1.3.5      Kenapa saat udara mendung udara menjadi panas ?

BAB II
TEORI
               
2.1 PENGERTIAN

Efek Rumah Kaca merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya.
MarsVenus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami SaturnusTitan) memiliki efek rumah kaca, tapi artikel ini hanya membahas pengaruh di Bumi. Efek rumah kaca untuk masing-masing benda langit tadi akan dibahas di masing-masing artikel.
Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (lihat juga pemanasan global). Yang belakang diterima oleh semua; yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.



2.2 PENYEBAB
Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyakbatu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.

Energi yang masuk ke Bumi:

·         25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer
·         25% diserap awan
·         45% diserap permukaan bumi
·         10% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi
Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.


2.3 AKIBAT

Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan danekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga berakibat kepada beberapa pulau kecil tenggelam di negara kepulauan , yang membawa dampak perubahan yang sangat besar.
Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.

2.4 BEBERAPA FAKTOR EFEK RUMAH KACA


·       Penggundulan hutan
Penggundulan hutan dapat menyebabkan  tidak terdapat tumbuhan yang menyerap karbondiksida yang digunakan dalam proses fotosintesis. Penggundulan hutan terjadi akibat kebutuhan lahan untuk perumahan, pertanian dan berbagai macam infrastruktur.

·         Bahan Bakar Fosil
Gas hasil pembakaran bahan bakar fosil berkontribusi terhadap penambahan gas rumah kaca yang pada gilirannya memicu pemanasan global.

·         Peralatan listrik
Contoh peralatan listirik penghasil gas rumah kaca salah satunya adalah lemari es. Lemari es model lama menggunakan gas CFC atau  Chlorofluorocarbon. Gas CFC yang terlepas ke atmosfer dapat berperan sebagai gas rumah kaca yang memicu peningkatan suhu bumi.

·         Pertumbuhan penduduk
Pertumbuhan penduduk adalah salah satu penyebab utama efek rumah kaca. Dengan meningkatnya populasi , dapat meningkatkan kebutuhan juga. Hal ini meningkatkan produksi dan proses industri yang menyebabkan peningkatan pelepasan gas industri yang mengkatalisis efek rumah kaca.


2.5 PENYEBAB UDARA PANAS SAAT TERJADI MENDUNG


menjadi cair. Pada proses ini dilepaskan sejumlah panas ke udara. Awan yang mendung biasanya tidak terlalu tinggi dibandingkan awan yang putih, sehingga semakin dekat jaraknya ke permukaan bumi, efek panas yang dilepaskan semakin terasa. Kondisi ini akan lebih panas jika sebelumnya matahari bersinar terik, sehingga panas yang kita rasakan adalah akumulasi dari pelepasan energi dari perubahan fase uap air menjadi air dan energi panas sisa yang dipancarkan bumi.
menurut badan meteorologi dan genetika di bandung, hali ini diakibatkan dari awan mendung yang mempersempit jumlah luas area yang tersedia untuk menyerap energi matahari . sisa energi yang tidak diserap , akan kembali ke permukaan bumi sehingga udara dimalam hari akan terasa panas.

BAB III
PENUTUP

3.1 ANALISA

Efek rumah kaca dapat mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar dan juga mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi

Referensi

http://google.co.id

Minggu, 11 Oktober 2015

Pengertian Kata Dasar, Turunan, Ulang ,dan Gabungan Kata

A. Kata Dasar


kata dasar adalah kata yang belum diberi imbuhan. Dengan kata lain, kata dasar adalah kata yang menjadi dasar awal  pembentukan kata yang lebih besar. Contohnya adalah makan, duduk, pulang, tinggal, datang, minum, langkah, pindah, dan lain – lain.

Kata dasar bisa membentuk satu kesatuan kalimat, yaitu:

1. Ular yang mati itu sangat  panjang .
2. Aku pergi ke sekolah dengan ayah.
3. Budi datang ke rumahku dengan sangat cepat.
4. Kakak suka makan kue bakpia dari kota Jogjakarta.
5. Ayah sampai di rumah jam 9 malam, ketika aku sedang tidur.
6. Ibu percaya bahwa engkau tahu.
7. Buku itu sangat tebal.
8. Rumah itu sangat bagus.
9. Stasiun penuh sesak penumpang.
10. Ibu suka makan lumpia dari kota Semarang.

B. Kata Turunan


Kata turunan atau disebut dengan kata berimbuhan adalah kata – kata yang telah beruba bentuk dan makna. Perubahan ini dikarenakan kata – kata tersebut telah diberi imbuhan yang berupa awalan (afiks), akhiran (sufiks), sisipan (infiks), dan awalan – akhiran (konfiks). Contohnya adalah menanam, berlari, tertinggal, dan lain – lain. 

Kata turunan dapat berupa kata dasar yang mendapat imbuhan; awalan, sisipan dan akhiran. Imbuhan itu ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Contoh;
catatan (kata dasar [catat], mendapat akhiran [-an])
berlari (kata dasar [lari], mendapat awalan [ber-])
gemetar (kata dasar [getar], mendapat sisipan [-em-])
Kata turunan berupa gabungan singkatan dan imbuhan yang dirangkai menggunakan tanda hubung. Contoh;
mem-PHK-kan
mem-PTUN-kan
Kata turunan berupa gabungan kosa kata asing dan imbuhan yang dirangkai menggunakan tanda hubung. Contoh;
me-recall
di-upgrade
Kata turunan juga dapat berupa gabungan bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf kapital. Kata turunan ini, penulisannya dirangkai menggunakan tanda hubung ( – ). Contoh;
pro-Indonesia
non-Indonesia
pan-Afrika
Kata turunan yang bentuk dasarnya berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang mengikuti atau mendahuluinya. Contoh;
sebar luaskan
bertepuk tangan
garis bawahi
Kata turunan yang bentuk dasarnya berupa gabungan kata dan mendapatkan awalan dan akhiran sekaligus, maka unsur gabungan kata itu ditulis serangkan dengan imbuhannya. Contoh;
menyebarluaskan
pertanggungjawaban
melipatgandakan
mencampuradukan
Kata turunan yang salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Contoh;
adipati
adikuasa
aerodinamika
aeromodeling
antarkota
antarprovinsi
antibiotik
antiteroris
anumerta
audiogram
bikarbonat
biokimia
bioetanol
caturtunggal
caturmarga
dasawarsa
dasasila
dekameter
demoralisasi
demiliterisasi
dwiwarna
dwitunggal
ekawarna
ekstrakurikuler
inframerah
infrastruktur
inkonvensional
intoleransi
kosponsor
mahasiswa
mancanegara
monoteisme
monorail
multilateral
narapidana
nonkolaborasi
pascasarjana
paripurna
poligami
politeknik
poliklinik
pramuniaga
pramusaji
prasangka
purnawirawan
saptakrida
semiprofesional
subseksi
swadaya
telepon
transmigrasi
tritunggal
ultramodern
Jika kata [maha] merujuk kepada Tuhan dan diikuti oleh kata berimbuhan, maka gabungan keduanya ditulis terpisah dan unser-unsur pembentuknya dimulai dengan huruf kapital. Contoh;
Kita serahkan kepada Tuhan yang Maha Pengasih
Anda harus bertobat kepada Tuhan yang Maha Pengampun
Tapi, jika kata [maha] sebagai unsur gabungan merujuk pada Tuhan, namun diikuti oleh kata dasar, gabungan katanya ditulis serangkai. Ketentuan ini tidak berlaku untuk kata dasar [esa]. Contoh;
Hanya Tuhan yang Mahakuasa yang bisa menentukan nasib kita.
Semoga Tuhan yang Maha Esa mengabulkan permohonan kita.
Bentuk-bentuk terikat dari bahasa asing yang sudah kita serap dalam bahasa Indonesia, seperti [pro], [kontra] dan [anti], dapat kita jadikan sebagai kata dasar. Contoh;
Lebih banyak masyarakat yang kontra, ketimbang pro terhadap kebijakan penaikan harga bahan bakar minyak.
Dia selalu anti terhadap jemaat ahmadiyah.

C. KATA ULANG
Kata ulang atau reduplikasi adalah kata yang mengalami proses pengulangan.
jenis-jenis kata ulang.

Kata Ulang Berdasarkan Bentuk


1. Dwipurwa (kata ulang sebagian)

Kata ulang sebagian adalah proses pengulangan yang terjadi pada sebagian kata biasanya terjadi pada bagian awal kata.

Contoh:

Tetangga, Tetua, Lelaki, Sesaji, Leluhur, Dedaunan, Pepohonan, Rerumputan, Bebatuan, Tetangga, Leluasa, Pegunungan

Contoh kalimat:

Tetua adat menyuruh semua orang untuk menjaga pepohonan di dalam hutan.
Rerumputan di pegunungan itu mati karena kemarau panjang yang terjadi.

2. Dwilingga (Kata ulang utuh atau penuh)

Reduplikasi pada kata ulang utuh ini terjadi pada semua atau keseluruhan kata.

Contoh:

Anak-anak, Ibu-ibu, bapak-bapak, rumah-rumah, macam-macam, tinggi-tinggi, kata-kata, sama-sama, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Anak-anak bermain dengan riang gembira bersama orang tuanya.
Pepohonan yang ada di hutan itu tinggi-tinggi dan besar-besar semua.

3. Kata ulang berubah bunyi

Reduplikasi bentuk ini terjadi pengulangan bunyi pada unsur pertama maupun unsur kedua dalam kalimat.

Contoh:

Gerak-gerik, sayur-mayur, warna-warni, teka-teki, sayur-mayur, utak-atik, serba-serbi, gotong-royong, lauk-pauk, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Gerak-gerik pria misterius itu harus diwaspadai.
Makanlah makanan sehat seperti sayur-mayur dan lauk-pauk.

4. Kata ulang berimbuhan

Pengulangan kata ulang berimbuhan terjadi dengan menambahkan imbuhan pada unsur kata pertama atau unsur kata kedua.

Contoh:

Tarik-menarik, bermain-main, bersenang-senang, melihat-lihat, berandai-andai, bersiap-siap, rumah-rumahan, batu-batuan, bermaaf-maafan, tukar-menukar, sapa-menyapa, pukul-memukul, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Setelah terjadi tarik-menarik kedua kelompok remaja itu bermaaf-maafan.
Budi melihat-lihat rumah-rumahan yang terbuat dari lilin.

5. Kata ulang semu

Reduplikasi pada kata ulang semu terjadi pada kata dasar yang sebenarnya bukan hasil reduplikasi itu sendiri. Perbedaan dengan kata ulang utuh adalah kata yang direduplikasi tidak akan memiliki makna jika dipisah.

Contoh: Laba-laba, kura-kura, undur-undur, orong-orong, empek-empek, kupu-kupu, ubur-ubur, pura-pura, cumi-cumi, ubun-ubun, dan lain-lain.

Contoh:

Budi sangat takut akan laba-laba, dan kura-kura.
Kupu-kupu terbang dengan sangat cantik.

Kata Ulang Berdasarkan Fungsi atau Makna


1. Kata ulang bermakna mirip atau agak

Contoh: Kekanak-kanakan, kemerah-merahan, kebapak-bapakan, kekeluargaan, kuda-kudaan, mobil-mobilan, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Mobil-mobilan yang diberikan oleh ayah berwarna kemerah-merahan.
Dia bertingkah laku kekanak-kanakan bukannya kebapak-bapakan.

2. Kata ulang bermakna jamak

Contoh: Ibu-ibu, bapak-bapak, buku-buku, rumah-rumah, motor-motor, hewan-hewan, barang-barang, murid-murid, dokter-dokter, sapi-sapi, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Murid-murid harus mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru-guru mereka.
Motor-motor yang terparkir di lapangan itu kebanyakan milik bapak-bapak daripada ibu-ibu.

3. Kata ulang bermakna macam-macam

Contoh: Sayur-mayur, pepohonan, buah-buahan, tumbuhan-tumbuhan, batu-batuan, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Ibu membeli sayur mayor di pasar minggu setiap hari.
Di taman itu banyak terdapat tumbuhan-tumbuhan yang cantik dan harum.

4. Kata ulang bermakna saling.

Contoh: bermaaf-maafan, bersalam-salaman, pukul-memukul, pandang-memandang, lihat-melihat, tembak-menembak, tikam-menikam, tuduh-menuduh, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Perampok dan polisi itu tembak-menembak di depan Bank kemarin sore.
Kedua pasangan itu pandang-memandang selama berjam-jam tanpa bicara sepatah kata pun.

5. Kata ulang bermakna intensitas

Contoh: Kuat-kuat, mondar-mandir, jalan-jalan, makan-makan, bolak-balik, berjam-jam, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Andi memegang tangan ayahnya kuat-kuat ketika menyebrang jalan.
Aku melihat orang itu mondar-mandir di depanku sejak dari tadi.

6. Kata ulang bermakna kolektif atau bilangan

Contoh: Satu-satu, dua-dua, tiga-tiga, empat-empat, dan seterusnya.

Contoh kalimat:

Ibu membagikan permen kepada anak jalanan itu satu-satu.
Pembagian keuntungan itu dibagi secara adil yaitu lima puluh-lima puluh.

7. Kata ulang bermakna keadaan atau situasi

Contoh: Hidup-hidup, mentah-mentah, merah-merah, panjang-panjang, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Presiden memerintahkan untuk menangkap pelaku terorisme itu hidup-hidup.
Buah rambutan itu merah-merah dan pasti rasanya manis.

8. Kata ulang bermakna  tindakan yang dilakukan berkali-kali

Contoh: Sering-sering, berkali-kali, terus-menerus, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Budi memukul kucing itu berkali-kali hingga tak bisa berdiri.
Andi mengejeknya terus-menerus tanpa henti.

9. Kata ulang bermakna kegiatan

Contoh: Masak-memasak, jahit-menjahit, tukar-menukar, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Ibu-ibu PKK mengadakan lomba masak-memasak untuk memperingati hari kemerdekaan.
Sebelum ada uang orang-orang mengadakan tukar menukar barang untuk memenuhi kebutuhan hidup.


D. Gabungan Kata

Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.

Contoh: tanda tangan; terima kasih; rumah sakit; tanggung jawab; kambing hitam; dll.

Perhatikan kalau gabungan kata itu mendapatkan imbuhan!

Apabila gabungan kata itu mendapatkan awalan atau akhiran saja, awalan atau akhiran itu harus dirangkai dengan kata yang dekat dengannya. Kata lainnya tetap ditulis terpisah dan tidak diberi tanda hubung.

Contoh: berterima kasih; bertanda tangan; tanda tangani; dll.


Apabila gabungan kata itu mendapatkan awalan dan akhiran, penulisan gabungan kata harus serangkai dan tidak diberi tanda hubung.

Contoh: menandatangai; pertanggungjawaban; mengkambinghitamkan; dll.

Gabungan kata yang sudah dianggap satu kata.

Dalam bahasa Indonesia ada gabungan kata yang sudah dianggap padu benar. Arti gabungan kata itu tidak dapat dikembalikan kepada arti kata-kata itu.

Contoh: bumiputra; belasungkawa; sukarela; darmabakti; halalbihalal; kepada; segitiga; padahal; kasatmata; matahari; daripada; barangkali; beasiswa; saputangan; dll

Kata daripada, misalnya, artinya tidak dapat dikembalikan kepada kata dari dan pada. Itu sebabnya, gabungan kata yang sudah dianggap satu kata harus ditulis serangkai.

Gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu kata yang mengandung arti penuh, unsur itu hanya muncul dalam kombinasinya.

Contoh: tunanetra; tunawisma; narasumber; dwiwarna; perilaku; pascasarjana; subseksi; dll.

Kata tuna berarti tidak punya, tetapi jika ada yang bertanya, “Kamu punya uang?” kita tidak akan menjawabnya dengan “tuna”. Begitu juga dengan kata dwi, yang berarti dua, kita tidak akan berkata, “saya punya dwi adik laki-laki.” Karena itulah gabungan kata ini harus ditulis dirangkai.

Perhatikan gabungan kata berikut!

Jika unsur terikat itu diikuti oleh kata yang huruf awalnya kapital, di antara kedua unsur itu diberi tanda hubung.

Contoh: non-Indonesia; SIM-ku; KTP-mu.

Unsur maha dan peri ditulis serangkai dengan unsur yang berikutnya, yang berupa kata dasar. Namun dipisah penulisannya jika dirangkai dengan kata berimbuhan.

Contoh: Mahabijaksana; Mahatahu; Mahabesar.

Maha Pengasih; Maha Pemurah; peri keadilan; peri kemanusiaan.

Tetapi, khusus kata ESA, walaupun berupa kata dasar, gabungan kata maha dan esa ditulis terpisah => Maha Esa.













Rabu, 07 Oktober 2015

Cerita Legenda Hang Tuah

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Legenda adalah  cerita prosa rakyat yang dianggap sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi, sehingga sering kali disebut sebagai sejarah kolektif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, legenda adalah cerita rakyat jaman dahulu berkaitan dengan peristiwa dan asal-usul terjadinya suatu tempat. Menurut Pudentia, legenda adalah cerita yang dipercaya oleh beberapa penduduk setempat benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci atau sakral yang juga membedakannya dengan mite. Menurut Emeis, legenda adalah cerita kuno yang setengah berdasarkan sejarah dan yang setengah lagi berdasarkan angan-angan. Menurut William R. Bascom, legenda adalah cerita yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Menurut Hooykaas, legenda adalah dongeng tentang hal-hal yang berdasarkan sejarah yang mengandung sesuatu hal yang ajaib atau kejadian yang menandakan kesaktian. Walaupun demikian, legenda seringkali jauh berbeda dengan kisah aslinya.

Hikayat (haka = cerita) adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang.

Hikayat adalah karya sastra kuno sehingga kebanyakan ceritanya mengambil latar kerajaan. Untuk menjaga kelestarian sejarah, hikayat telah dibawa turun-temurun dari nenek moyang dengan tidak meninggalkan kekhasan hikayat itu sendiri. Sehingga banyak cerita berbentuk hikayat yang telah tersebar di bangsa Melayu maupun dunia. Salah satu hikayat yang terkenal di Indonesia adalah Hikayat Hang Tuah.

Hang Tuah adalah tokoh kepahlawanan melayu yang terdapat pada Hikayat Hang Tuah. Hang Tuah diceritakan sebagai petarung yang hebat dan sangat gagah berani dengan pangkat laksamana dari Kesultanan Malaka (1400-1511). Ia juga diceritakan telah menyebut sumpah yang berbunyi “Tak akan Melayu hilang di bumi” yang membuatnya terkenal dan dikagumi oleh beberapa kalangan dengan kisahnya.

Namun, tak semua kalangan membenarkan keberadaan tokoh Hang Tuah dalam kehidupan nyata. Banyaknya versi tentang cerita dalam Hikayat Hang Tuah membuat beberapa masyarakat menganggap tokoh Hang Tuah hanya mitos belaka. Memang, beberapa masyarakat menganggap Legenda Hang Tuah hanya karangan imajinasi saja. Akan tetapi, setiap manusia memiliki persepsi yang berbeda, artinya benar atau tidaknya kisah Hang Tuah bergantung kepada pemikiran atau kepercayaan.

Terkadang tidak cukup opini saja untuk membuktikan suatu hal, dan perlu adanya fakta. Oleh karena itu, dalam kebenaran Hang Tuah ini perlu adanya pembuktian yang cukup kuat untuk meyakinkan masyarakat tentang sejarahnya. Sebelum melakukan pembuktian, juga diperlukan pengetahuan yang kuat tentang cerita dalam Hikayat Hang Tuah.

1.2  Rumusan Masalah

Dalam makalah ini akan ada beberapa rumusan masalah yang dibahas, di antara lain
1.2.1 Apakah yang diceritakan dalam Hikayat Hang Tuah?


1.3  Tujuan Makalah
1.3.1 Mengetahui tentang Legenda Hang Tuah


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hikayat Hang Tuah

Hikayat Hang Tuah adalah sebuah karya sastra Melayu yang termasyhur berbentuk hikayat yang memuat 28 bab dan ditulis dengan huruf arab berbahasa Melayu. Hikayat ini ditulis dalam bentuk buku dengan tulisan tangan. Dalam memperbanyak buku Hikayat Hang Tuah, buku ditulis ulang oleh juru tulis dengan tulisan tangan. Sehingga, Hikayat Hang Tuah memiliki beberapa versi Sulalatus Salatin yang berbeda. Hingga kini, Hikayat Hang Tuah telah diterjemahkan ke berbagai tulisan dan bahasa oleh para penerbit modern di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan negara Melayu lainnya.

      Seperti pada kebanyakan hikayat, Hikayat Hang Tuah mengambil setting kerajaan yaitu Kesultanan Melaka di Negeri Bentan pada abad ke-15. Diceritakan ayah Hang Tuah, Hang Mahmud, mendapat mimpi buruk yang melibatkan Hang Tuah, sehingga mereka dan ibu Hang Tuah, Dang Merdu Wati, berpindah dan menetap ke Negeri Bentan. Di Negeri Bentan, Hang Tuah tumbuh besar menjadi anak yang pintar dan berani. Ia juga memiliki 4 sahabat yaitu: Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Mereka dikabarkan selalu bersama.

      Pada suatu ketika, kelima sahabat itu telah berhasil membunuh sekelompok pemberontak yang mencoba memporak-porandakan desa tempat kediaman Hang Tuah. Sultan Melaka yang takut akan pemberontak itu sontak kagum dengan aksi Hang Tuah dan kawan-kawan. Hang Tuah dan kawan-kawan kemudian diajak untuk bekerja di istana. Sultan sangat menyayangi mereka, sampai akhirnya Hang Tuah diberi gelar Laksamana. Hang Tuah dan kawan-kawan sering diutus oleh Sultan Melaka untuk mengunjungi negara lain.

      Salah satu bagian yang terkenal dalam Hikayat Hang Tuah adalah tentang keris Hang Tuah, keris Taming Sari. Konon keris itu diambil dari seorang petarung bernama Taming Sari di Kerajaan Majapahit. Keris itu memberikan kekuatan pada pemiliknya menjadi pandai berkelahi, kebal senjata dan dapat menghilang. Mengetahui hal itu, Hang Tuah merebut kerisnya dan membunuh Taming Sari. Sehingga keris itu dapat memberikan kekuatan yang sama pada Hang Tuah.

      Pada akhir cerita, Hang Tuah dituduh berzinah dengan pelayan Raja, dan di dalam keputusan yang cepat, Raja menghukum mati Laksamana yang tidak bersalah. Namun, hukuman mati tidak pernah dikeluarkan, karena Hang Tuah dikirim ke sebuah tempat yang jauh untuk bersembunyi oleh Bendahara. Setelah mengetahui bahwa Hang Tuah akan mati, teman seperjuangan Hang Tuah, Hang Jebat, dengan murka ia membalas dendam melawan raja, mengakibatkan semua rakyat di situ banyak yang terbunuh dan keaadan menjadi kacau-balau. Raja menyesal menghukum mati Hang Tuah, karena dialah satu-satunya yang dapat diandalkan untuk membunuh Hang Jebat yang membuat kerusuhan. Secara tiba-tiba, Bendahara memanggil kembali Hang Tuah daripada tempat persembunyiannya dan dibebaskan secara penuh daripada hukumannya oleh raja. Setelah tujuh hari bertarung, Hang Tuah merebut kembali keris Taming Sarinya dari Hang Jebat, dan membunuhnya di dalam pertarungannya. Setelah teman seperjuangannya gugur, Hang Tuah menghilang dan tidak pernah terlihat kembali.

      Dalam bahasan cerita di atas, dapat diketahui bahwa Hang Tuah terkenal karena memiliki watak yang pemberani dan setia pada sultan. Hang Tuah dalam ceritanya juga merupakan tokoh yang tak bisa ditindas, ia selalu menentang orang-orang yang mencoba menindasnya. Yang membuat Hikayat Hang Tuah dikenal luas oleh bangsa Melayu salah satunya adalah sumpahnya yang berbunyi “Tak akan Melayu hilang di bumi” yang berarti dia bersumpah bahwa suku Melayu tidak akan punah di bumi ini.
BAB III
PENUTUP

3.1 Analisis

      Legenda Hang Tuah adalah sebuah cerita yang menceritakan perjalanan Hang Tuah dan disebarluaskan dalam bentuk Hikayat. Hikayat Hang Tuah ditulis dengan huruf arab berbahasa Melayu dan memuat 28 bab. Hang Tuah merupakan seorang Laksamana dari Kesultanan Melaka di Negeri Bentan yang mempunyai watak pemberani dan setia pada Sultan. Hang Tuah sering melakukan sesuatu bersama 4 sahabatnya yaitu: Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu, walaupun di akhir cerita Hang Tuah membunuh Hang Jebat karena kesetiaannya pada Sultan.
           
      Dalam penyebaran Legenda Hang Tuah, beberapa masyarakat ragu dan menganggap kisah Hang Tuah dalam Hikayat Hang Tuah hanya mitos atau imajinasi belaka. Keraguan ini dapat disebabkan karena versi cerita yang bermacam-macam, sehingga pembaca mengira cerita ini hanya karangan imajinasi. Timbulnya keraguan dapat juga terjadi karena cara berpikir yang modern, sehingga Legenda Hang Tuah yang memuat unsur gaib atau kesaktian manusia tidak dapat diterima begitu saja. Ketiga, penyebab keraguan ini dapat disebabkan oleh kurang kejelasan dalam cerita atau riwayat Hang Tuah, sehingga masyarakat kurang dapat mempercayai legenda itu karena perlu bukti yang kuat dan jelas.

      Akan tetapi, Legenda Hang Tuah dapat dinyatakan benar-benar ada jika dipelajari ceritanya, mengumpulkan bukti dan referensi juga melihat dari sudut pandang yang berbeda. Dengan menganalisis cerita dalam Hikayat Hang Tuah, pembaca mendapatkan kejelasan tentang keberadaan Hang Tuah pada masa lampau. Lalu, dengan melestarikan sejarah dan mempercayainya, pembaca dapat menghargai unsur budaya dan kepercayaan pada Legenda Hang Tuah. Kemudian, dengan mengumpulkan bukti dan referensi, keberadaan Hang Tuah semakin dipercaya karena pembaca lebih mengetahui secara jelas cerita yang dimaksud dalam Hikayat Hang Tuah. Oleh karena itu penulis menyimpulkan, Hang Tuah merupakan tokoh terkenal saat jaman Kesultanan Melaka yang terbukti benar keberadaannya.

REFERENSI